Variasi biologis berdasarkan adaptasi

Variasi biologis berdasarkan adaptasi
BAB I
PENDAHULUAN

I.I. Latar belakang masalah
Manusia maupun makhluk hidup lainnya selalu mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi dalam sejarahnya sebagai genus dan spesies sampai terbentuknya homo sapiens (antropogenese, filogenese). Perubahan juga terjadi dalam hidup seseorang (ontogenese). Semua hal tersebut adalah merupakan hasil interaksi antara genotipe dan lingkungan.
Genotip adalah keseluruhan informasi genetis yang dimiliki seseorang. Sifat-sifat individual yang terbentuk oleh genotip, disebut fenotip. Fenotip merupakan sifat yang tampak pada tubuh manusia. Di samping itu pengaruh lingkungan selaku modifikator berperan juga. Akibat interaksi antara genotip dan lingkungan adalah fenotip.
Dalam kehidupannya manusia selalu menyesuikan diri atau beradaptasi dengan lingkungannya. Hal tersebut berfungsi agar manusia dapat survive atau bertahan hidup dalam mengahadapi tantangan-tantangan dan kesulitan yang ada di alam ingkungan sekitarnya. Akibat proses tersebut manusia memiliki variasi genetik. Variasi inilah yang menyebabkan timbulnya bermacam-macam varian biologis pada manusia.
Jika dilihat di seluruh muka bumi, maka keanekaraman manusia sangat besar sekali. Keanekaragaman manusia ini merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Oleh karena itu timbul pengelompokan keanekaragaman ini dalam satuan-satuan taksonomis yang lebih kecil dari pada spesies, yaitu ke dalam subspecies atau ras, ataupun dalam tipologi konstitusi badan saja. Contoh variasi-variasi tersebut antara lain seperti bentuk dan warna rambut,warna iris mata serta distribusi warna didalamnya, bentuk kepala, wajah, hidung, bentuk tubuh, dsb.
Di antara variasi-variasi tersebut ada yang bersifat genetis/herediter, dan ada yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Sangat sulit dalam membedakan satuan taksomis/tipologis variasi yang mungkin dipengaruhi oleh genetis maupun lingkungan. Dengan kata lain, dalam fenotip dicari apa yang menjadi dasar genotipnya; namun membedakan antara sifat herediterdan sifat yang disebabkan oleh lingkungan tidaklah mudah.
Lingkungan manusia dibagi menjadi dua macam: lingkungan biografis dan lingkungan sosial budaya. Yang selalu berpengaruh adalah lingkungan biogeografis. Lingkungan sosial budaya hanya dapat membatasi atau meringankan pengaruhnya. Dari segi lain, semakin tinggi kebudayaan dan dan peradaban disertai kemajuan teknologi, semakin kuat pengaruh lingkungan sosial budaya. Dalam prakteknya sering ditemui kesulitan dalam bembedakan, apa yang disebabkan oleh lingkungan biogeografis dan lingkungan sosial budaya.

I.2. Rumusan masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka permasalahan yang dikemukakan adalah:
‘bagaimana variasi genetik berdasarkan adaptasi’

I.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
 Berusaha untuk mendeskripsikan mengenai bagaimana pengaruh adaptasi terhadap variasi genetik manusia.
 Dapat menjadi tambahan informasi pengetahuan mengenai variasi genetik berdasarkan adaptasi.

I.4. kerangka pemikiran
I.4.I. variasi genetik
Variasi genetik dalam populasi yang merupakan gambar dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan adalah bahan dasar dari perubahan adaptif. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu kekecualian , maka, tidak ada dua individu yang serupa, pada populasi manusia dapat kita lihat dengan muda adanya perbedaan- perbedaan individu : misalnya dipunyainya ciri-ciri anatomi, fisiologi dan kelakuan yang khusus. Dengan demikian, populasi terdiri dari sejumlah individu yang memiliki sifat penting tetapi berbeda satu sama lain didalam berbagai hal.
Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipenya. Sintesis evolusioner modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika ini. Frekuensi alel tertentu akan berfluktuasi, menjadi lebih umum atau kurang umum relatif terhadap bentuk lain gen itu. Gaya dorong evolusioner bekerja dengan mendorong perubahan pada frekuensi alel ini ke satu arah atau lainnya. Variasi menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika ia menghilang dari suatu populasi ataupun ia telah menggantikan keseluruhan alel leluhur.
Variasi berasal dari mutasi bahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), dan perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual. kebanyakan genom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Namun, bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Misalnya simpanse dan manusia hanya berbeda pada 5% genomnya.
Perbedaan- perbedaan diatas dapat kita lihat dengan nyata dan dapat pula sangat samar- samar. Dengan demikian, jika terjadi suatu seleksi yang menentang beberapa varian dan seleksi menguntungkan untuk varian lain didalam suatu populasi, maka komposisi kesehatan dari populasi itu dapat berubah dengan berjalannya waktu , sebab sifat dari populasi itu ditentukan oleh induvidu didalamnya. Secara umum variasi genetik dapat dibedakan menjadi 5 penyebab (agensia evolutif), yakni mutasi rekombinasi gen, genetic drift, gen flow dan seleksi alam.
Selain itu faktor-faktor sosial budaya juga berpengaruh terhadap adanya variasi, meskipun pengaruhnya kecil
I.4.2. pengaruh faktor sosial budaya terhadap keadaan biologis populasi manusia
Populasi dalam arti biologis adalah sekelompok individu satu spesies yang menduduki teritori yang sama dan saling kawin-mawin (breeding community), lantas dalam breeding community ini mereka terisolasi dari kelompok lain yang hampir (kurang lebih) secara total. Maka populasi merupakan satuan dasar dimana gen-gen anggotanya beredar melalui perkawinan. Dengan demikian kumpulan gen-gen individual merupakan gene pool.
Manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang sanggup menciptakan organisasi sosial dan mengembangkan kebudayaan. Kemampuan ini, dari satu segi manusia sanggup dalam batas tertentu, mengatasi tantangan lingkungan biotis dan abiotis, sehingga manusia dapat menghuni hampir seluruh bumi. Dari segi lain manusia terperangkap oleh jaringan kebudayaan yang diciptakannya sendiri. Maka pada pembahasan ekologi makhluk hidup, pada manusia perlu diperhatikan juga lingkungan sosial budayanya.
Dalam aspek ekologis, kebudayaan serta organisasi sosial merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan. Namun dalam aspek biologis, lingkungan sosial budaya merupakan factor baru yang tidak ada pada makhluk hidup lainnya.
I.4.3. Adaptasi
konsep adaptasi datang dari dunia biologi, dimana ada 2 poin penting yaitu evolusi genetik, dimana berfokus pada uimpan balik dari interaksi lingkungan, dan adaptasi biologi yang berfokus pada perilaku dari organisme selama masa hidupnya, dimana organisme tersebut berusaha menguasai faktor lingkungan, tidak hanya faktor umpan balik lingkungan, tetapi juga proses kognitif dan level gerak yang terus-menerus. Adaptasi juga merupakan suatu kunci konsep dalam 2 versi dari teori sistem, baik secara biological, perilaku, dan sosial yang dikemukakan oleh John Bennet. Asumsi dasar adaptasi berkembang dari pemahaman yang bersifat evolusionari yang senantiasa melihat manusia selalu berupaya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan alam sekitarnya, baik secara biologis/genetik maupun secara budaya. Proses adaptasi dalam evolusi melibatkan seleksi genetik dan varian budaya yang dianggap sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan. Adaptasi merupakan juga suatu proses yang dinamik karena baik organisme maupun lingkungan sendiri tidak ada yang bersifat konstan/tetap. Sedangkan Roy Ellen membagi tahapan adaptasi dalam 4 tipe. Antara lain adalah (1) tahapan phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat seleksi alam, (2) modifikasi fisik dari phenotype/ciri-ciri fisik, (3) proses belajar, dan (4) modifikasi kultural. Modifikasi budaya bagi Ellen menjadi supreme atau yang teratas bagi homo sapiens, dimana adaptasi budaya dan transmisi informasi dikatakannya sebagai pemberi karakter spesifik yang dominan. Manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk belajar seperangkat sosial dan kaidah-kaidah budaya yang tidak terbatas. Sehingga kemudian fokus perhatian adaptasi menurut Rot Ellen seharusnya dipusatkan pada proses belajar, dan modifikasi budayanya.
Dasar pembagian ke-4 tipe adaptasi diatas, berdasarkan atas laju kecepatan mereka untuk dapat bekerja secara efektif. Seperti adaptasi phylogenetik, dibatasi oleh tingkatan bagaimana populasi dapat bereproduksi dan berkembang biak. Modifikasi fisik bekerja lebih cepat, akan tetapi tetap tergantung pada perubahan somatik dan akomodasi yang dihubungkan dengan pertumbuhan fisik dan reorganisasi dari tubuh. Sedangkan proses belajar, tergantung dari koordinasi sensor motor yang ada dalam pusat sistem syaraf. Disini ada proses uji coba, dimana terdapat variasi dalam waktu proses belajar yang ditentukan oleh macam-macam permasalahan yang dapat terselesaikan. Adaptasi kultural proses bekerjanya dianggap lebih cepat dibandingkan ke-3 proses diatas karena ia dianggap bekerja melalui daya tahan hidup populasi dimana masing-masing komuniti mempunyai daya tahan yang berbeda berdasarkan perasaan akan resiko, respon kesadaran, dan kesempatan. Sifat-sifat budaya mempunyai koefisiensi seleksi, variasi, perbedaan kematian-kelahiran, dan sifat budaya yang bekerja dalam sistem biologi.

I.5. metode penulisan makalah
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah deskriptif. Deskriptif memiliki arti sebagai usaha untuk menggambarkan mengenai objek yang menjadi fokus.

I.5.I. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penulisan makalah ini berasal dari buku bacaan yang relevan dengan objek yang menjadi fokus. Kekurangan yang tidak terdapat dari buku bacaan diperoleh dari penelusuran sumber internet.
I.5.2. Teknik Analisa Data
Data yang telah terkumpul dari buku bacaan dan sumber internet dipilahkan sesuai dengan fokus yang dikaji, selanjutnya dilakukan penggolongan menurut sub-bab. Setelah itu dilakukan analisis dengan menggunakan kerangka pemikiran yang digunakan dalam penulisan makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Timbulnya variabilitas
Untuk melihat bagaimana keanekaragaman , kita harus mulai dari suatu struktur yang paling kecil, tetapi sangat penting, struktur tersebut adalah asam deoksiribonukleat yang terdiri dari 4 macam asam nukleat, yakni adenin mitosin (C), guanin(G), dan timidin(T). Bila asam amino terakhir diganti dengan urasil(U), maka asam nukleat akan membentuk 20 macam asam amino esensial. Kini diketahui bahwa kombinasi tiga dari keempat macam asam nukleat akan membentuk asam amino. Kombinasi ini dikenal dengan kode genetik . apabila ada 4 macam asam nukleat yang membentuk asam amino ., maka hanya diperoleh 16 kombinasi untuk 16 asam amino , sehingga tidak ditemukan 4 macam asam amino esensial yang lain.
Secara umum, setiap satu asam amino dikode oleh sekitar 3 macam kombinasi asam amino dikode oleh satu kombinasi, sedangkan asam amino yang lani dikode oleh 6 macam kombinasi . dengan demikian maka suatu asam amino dapat dihasilkan lebih banyak kemunkinan . yang menjadi masalah sekarang adalah dari mana terjadinya keanekaragaman. Adanya satu kode gentik atau lebih belum dapat menerangkan terjadinya keanekaragaman.
Sejak masa lampau, orang sudah mempertanyakan mengapa umur suatu organisme sejenis tidak sama. Hal ini jelas terlihat apabila kita memelihara tumbuhan atau hewan, atau kita melihat pada alam disekitar kita dan diri kita sendiri, sebagai manusia. Keluarga pada zaman dahulu umumnya mempunyai anak lebih dari dua, demikian juga dengan hewan. Pada katak dapat kita lihat bahwa jumlah telur yang dihasilkan berjumlah beratus-ratus butir. Bila semuanya hidup dan berkembag biak , mungkin kini seluruh permukaan bumi dipenuhi oleh katak atau organisme lainnya. Namun hal ini tidak terjadi hanya individu yang sehat dan kuat , atau hampir sempurna dalam semua aspek kehidupan yang dapat bertahan . jadi alam sudah menyeleksi , mana yang baik dan mana yang tidak baik atau kurang baik.

Pengertian evolusi
Evolusi manusia tidak terjadi dengan sederhana. Evolusi, baik makro maupun mikro, terjadi secara rumit, tidak bisa diduga dan tidak mempunyai arah tertentu. Dalam arti yang luas evolusi adalah perubahan dari struktur dan bentuk lama menjadi baru. Evolusi bukan mempelajari bagaimana kehidupan teradi tetapi lebih menekankan pada penjelasan dan penggambaran mengenai proses perubahan dalam kehidupan manusia. Evolusi adalah suatu proses transformasi atau perubahan genetik dalam populasi dalam waktu yang lama dari generasi ke generasi. Evolusi merupakan suatu perkembangan dan perubahan secara perlahan yang terjadi sebagai suatu akibat hubungan sinergis antara faktor genetis danlingkungan. Sebagai konsekuensi proses evolusi ini adalah adanya suatu perubahan pola adaptasi dan variasi populasi. Semua gen individual dalam populasi berkaitan dengan gene pool nya. Dengan kata lain, evolusi adalah perubahan gene pool dari generasi ke generasi. Informasi herediter yang ada dalam gene pool ini terkandung dalam DNA, yaitu material genetik yang ada dalam nukleus setiap sel tuburh kita atau disebut juga dengan genome.

dfhgfgcgchgc

KETIDAKNORMALAN GEN DAN KROMOSOM
Para pakar genetika dan ahli perkembangan telah mengidentifikasi sejumlah masalah yang disebabkan oleh kelainan gen atau kromosom utama.
Beberapa kelainan gen atau kromosom utama:
1. Phenylketonuria (PKU), adalah suatu kelainan genetic yang menyebabkan individu tidak dapat secara sempurna memetabolismekan protein.
PKU dewasa ini mudah dideteksi, tetapi kalau tetap tidak tersembuhkan, dapat menyebabkan keterbelakangan mental dan hiperaktif.
2. Down Syndrome, suatu bentuk keterbelakangan mental yang secara genetic paling umum diturunkan, disebabkan oleh munculnya suatu syndrome tambahan (ke-47). Kenapa kromosom tambahan itu ada? Kemungkinan kesehatan sperma dan sel telur ikut terlibat. Penderita Down Syndrome memiliki wajah yang bundar, tengkorak yang rata, lipatan kulit tambahan sepanjang kelopak mata, lidah yang menonjol keluar, tungkai dan lengan pendek, dan keterbelakangan kemampuan motorik dan mental.
3. Anemia Sel Sabit (Sickle-cell anemia), kelainan darah yang menghambat pasokan oksigen tubuh. Dapat menyebabkan pembengkakan tulang persendian, krisis sel sabit, kegagalan jantung dan ginjal. Sel darah merah biasanya berbentuk seperti cakram atau piringan hitam. Sel-sel ini mati dengan cepat sehingga terjadi anemia dan kematian individu secara dini.

4. Klinefelter Syndrome, suatu kelainan genetic di mana laki-laki memiliki kromosom X tambahan. Menyebabkan susunan kromosomnya menjadi XXY sebagai ganti XY. Pertambahan kromosom ini menyebabkan abnormalitas fisik. Buah pelir laki-laki yang mengidap kelainan ini tidak berkembang dan biasanya mereka memiliki buah dada yang besar dan menjadi tinggi.

5. Turner Syndrome, perempuan kehilangan satu kromosom X, menyebabkan susunan kromosomnya menjadi XO sebagai ganti XX. Syndrome ini menyebabkan abnormalitas fisik, keterbelakangan mental, dan tidak berkembang secara seksual.

6. Anencephaly, kelainan pembuluh saraf yang menyebabkan otak dan tengkorak cacat; kebanyakan anak-anak meninggal pada saat kelahiran.

7. Cystic fibrosis, disfungsi kelenjar yang mempengaruhi produksi getah; pernapasan dan pencernaan terhambat, mengakibatkan pendeknya masa hidup.

8. Spina Bifida, kelainan saluran saraf yang menyebabkan abnormalitas tulang belakang dan otak.

9. Thalassemia, kelompok kelainan darah bawaan yang menyebabkan gejala kuran darah yang mulai lesu dan lemah hingga kegagalan hati.

BAB III
Analisis
Adaptasi Sebagai Strategi Bertahan Hidup Manusia
Daya tahan hidup populasi tidak bekerja secara pasif dalam menghadapai kondisi lingkungan tertentu, melainkan memberikan ruang bagi individu dan populasi untuk bekerja secara aktif memodifikasi perilaku mereka dalam rangka memelihar kondisi tertentu, menanggulangi resiko tertentu pada suatu kondisi yang baru, atau mengimprovisiasi kondisi yang ada. Beberapa adaptasi juga adalah kesempatan, efek dari sosial dan praktek kultural yang secara tidak sadar mempengaruhinya. Proses adaptif yang aktual mungkin merupakan kombinasi dari ke-3 mekanisme tersebut diatas. Misalnya, variasi dalam praktek kultural mungkin meningkat karena kesempatan/tekanan pada sumber-sumber daya /group. Sehingga adaptasi bisa kita sebut sebagai sebuah strategi aktif manusia dalam menghadapi lingkungannya. Adaptasi dapat dilihat sebagai usaha untuk memelihara kondisi kehidupan dalam menghadapi perubahan. Dengan demikian definisi adaptasi selalu berkaitan erat dengan pengukuran, dimana tingkat keberhasilan suatu organisme dapat bertahan hidup. Sejauh mana, dapat dikenali bahwa adaptasi dapat dikatakan berhasil atau tidak.
Variasi genetik dalam populasi yang merupakan gambar dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan adalah bahan dasar dari perubahan adaptif. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu kekecualian , maka, tidak ada dua individu yang serupa, pada populasi manusia dapat kita lihat dengan muda adanya perbedaan- perbedaan individu : misalnya dipunyainya ciri-ciri anatomi, fisiologi dan kelakuan yang khusus. Hal ini dapat kita lihat pada kucing dan anjing dan kuda., variasi individu pada cacing, burung jalak, bajing atau bayam sukar sekali kita dapatkan meskipun hal itu ada. Meskipun variasi individu ini terdapat dan hal ini mungkin tidak dapat kita lihat oleh mata kita, hal ini terjadi pada binatang bersel satu sampai dengan ikan paus. Dengan demikian, populasi terdiri dari sejumlah individu yang memiliki sifat penting tetapi berbeda satu sama lain didalam berbagai hal.

Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipnya. Sintesis evolusioner modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika ini. Frekuensi alel tertentu akan berfluktuasi, menjadi lebih umum atau kurang umum relatif terhadap bentuk lain gen itu. Gaya dorong evolusioner bekerja dengan mendorong perubahan pada frekuensi alel ini ke satu arah atau lainnya. Variasi menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika ia menghilang dari suatu populasi ataupun ia telah menggantikan keseluruhan alel leluhur.

Variasi berasal dari mutasi bahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), dan perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual. Variasi juga datang dari tukar ganti gen antara spesies yang berbeda: contohnya melalui transfer gen horizontal pada bakteria dan hibridisasi pada tanaman.Walaupun terdapat variasi yang terjadi secara terus menerus melalui proses-proses ini, kebanyakan genom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Namun, bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Misalnya simpanse dan manusia hanya berbeda pada 5% genomnya.

Perbedaan- perbedaan diatas dapat kita lihat dengan nyata dan dapat pula sangat samar- samar. Dengan demikian, jika terjadi suatu seleksi yang menentang beberapa varian dan seleksi menguntungkan untuk varian lain didalam suatu populasi, maka komposisi kesehatan dari populasi itu dapat berubah dengan berjalannya waktu , sebab sifat dari populasi itu ditentukan oleh induvidu didalamnya. Secara umum variasi genetik dapat dibedakan menjadi 5 penyebab (agensia evolutif), yakni mutasi rekombinasi gen, genetic drift, gen flow dan seleksi alam

BAB IV
Kesimpulan

Manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi. Selain beradaptasi secara biologis, manusia juga mempunyai adaptasi secara sosial budaya. Hal inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling survive di bumi dan mampu menghuni di hampir seluruh permukaaan bumi. Dalam beradaptasi manusia menggunakan kemampuan berfikirnya yang lebih baik dibanding makhluk lainnya.
Akaibat adaptasi, manusia mengalami perubahan-perubahan yang mengakibatkan bervariasinya genetiknya. Hal ini dikarenakan adaptasi manusia terhadap keadaan lingkungan yang ditempatinya, hal tersebut terjadi agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan tetap survive. Manusia yang tinggal di iklim tropis tentunya akan berbeda morfologisnya dengan manusia yang tinggal di iklim sub-tropis.
Variasi- variasi genetik juga dapat terlihat pada fenotip. Contoh variasi-variasi genetik antara lain adalah warna kulit atau pigmentasi, bentuk rambut, bentuk hidung, warna iris mata, dan lain sebagainya.

Daftar pustaka
2008 Artaria, Myrtati Dyah (ed)
Manusia Makhluk Sosial Biologis. Surabaya: Airlangga University Press
1987 Glinka, Jozef
Antropologi ragawi. Surabaya: Fisip Unair

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment